mengapa saya memilih merk ini (panduan membeli kamera)
yang saya maksud adalah memilih merk kamera, ini bukan tulisan tentang suatu merk tertentu tatkala saya menyebutkannya, ini cuma berbagi pengalaman tentang bagaimana memilih merk kamera yang sesuai dengan anda, dengan mengesampingkan tren, harga dan “kata orang baiknya yang mana”
sebenarnya, sejujurnya, dan bukan maksud sombong, tapi oleh teman saya, entah kenapa, sering diminta tolong untuk memilihkan kamera apa yang cocok buat mereka, terutama SLR yang sedang booming. Dan selama itu juga, saya kerap kali membuat jawaban yang hampir sama
“yang mana menurut kamu bagus” atau “coba aja dulu punya teman yang baik, jangan dirusakin tapi, coba semua parameter dan handling nya” atau “kamu sregnya make sistem yang mana? misalnya dari dulu udah make merk apa?”
kenapa saya menjawab begitu? karena memang saya melakukan itu sebelum menjatuhkan pilihan kepada yang ini, kalau boleh sharing, sebelum saya membeli kamera saya sudah memakai beberapa merk dan varian sebagai berikut
Canon:
- setara enty: 300D, 350D, 400D, 450D, 1000D (waktu itu 500D, 1100D keatas belum keluar)
- serial setara semi pro: 30D, 40D, 50D (60D belum keluar)
- serial setara pro: -
- pocket: ixus 850IS, powershot SX seri lupa (mirip SX230 tapi seri lamanya)
- analog: FTb-QL
Nikon:
- setara entry: D40(non x), D50, D60, D5000
- setara semipro: D70, D80, D90, D200, D300
- setara pro: D2 (gatau ada embel2 dibelakangnya atau gak)
Olympus : E500, E420
Sony: alpha 100 (antara 100 atau 700, saya lupa), alpha 200
dan belum pernah mencoba kamera full session dengan pentax (kalo megang saja pernah), ricoh, sigma, dll. Dan dari situ hal dan parameter yang saya nilai dan bandingkan adalah:
- pengaturan mode foto (auto, shutter, apertur, dll)
- pengaturan parameter berupa: tampilan shutter dan bukaan apertur, keterangan modus foto, pengaturan white balance,
pengaturan white balance manual, pengaturan kontrol gambar (seperti BW, natural. vivid, dll), pengaturan mode scene(bila ada) pengaturan exposure compensation dan flash exposure compensation, apakah mesti masuk menu atau ada semacam hotkey di body
- pengaturan autofokus, baik dalam tipe apapun (untuk flash, atau metering lain seperti matrix, color 3D, dll) apakah ada di menu layar utama, layar atas, atau ada di dalam menu yang menjurus kedalam
- ketersediaan lensa di pasaran, banyak dan beragam dan terjangkau/ value for money, atau justru baru tersedia 1 lensa standar dan 1 lensa zoom, termasuk didalamnya ketersediaan dan kompatibilitas asesori baik pabrikan maupun third party
- shutter releasenya responsif, kelembutan atau malah susah ditekan termasuk dimana letak on off kamera? letak yang susah dipencet kadang menyebalkan, kecuali cara menyalakannya dengan menempelkan jempol atau sensor muka anda seperti laptop, dan itu tidak ada
- durabilitas mirror dan metering (apabila ada), berapa puluh ribu atau ratus ribu kali foto dapat diambil sebelum harus diganti komponen tersebut, semakin banyak tentu semakin baik dan calon pembeli kamera bekas anda tak akan perduli dengan angka shutter count yang mungkin benar, atau manipulasi seperti “jual kamera nikon D7000 baru 2 minggu SC12.xxx” karena memang menurut nikon, D7000 itu 150.000 jepret baru soak, kalau calon pembeli anda perduli, lebih baik cari pembeli lain
- pengaturan primer lain seperti multiple shot, AF mode (panning atau steady), remote, dan lainya apakah ada di dalam tombol atau ada didalam menu (mesti masuk menu dulu baru ada pilihan pengaturannya)
- delay untuk masuk menu (cepat dan smooth atau pake lama) kalo lama repot juga apabila perlu momen cepat saat memfoto
- daya tahan batrenya apabila digunakan tanpa dan dengan flash, kenapa? karena percuma anda membeli memori yang besar, anggaplah 8GB keatas, pabila kameranya hanya mampu memfoto 400 gambar sekali sesi tanpa flash, saya sarankan belilah prosumer atau superzoom, daripada SLR, apalagi kalo memang budgetnya maksimal seharga itu
- colokan yang ada di kamera nya apa? interface, dan perhatikan setiap lubang input maupun output, meliputi jack untuk mic, GPS, video output, HDMI, remote, USB, SDcard/CFcard/XDcard, dll, serta jangan lupa hotshoenya, apakah segalanya universal atau tidak, kalau tidak apakah itu merupakan keberatan bagi anda atau tidak
- model kamera, berupa grip, letak tombol, material dan rentang kerja terhadap tekanan suhu dan lain sebagainya, karena ternyata, ada kamera yang saya coba apabila di daerah panas atau dingin kemampuan batrenya beda, waspadalah, lagi pula warna dan model kadang menunjukkan identitas, sebagai contoh sekarang ini canon 1100D ada yang berwarna merah dan pentax K-m(kalau tidak salah) hadir dengan warna anak2.. atau untuk kamera pocket dan prosumer, warna sangat beragam sesuai selera, tapi materialnya memang rata2 plastik, atau besi yang terlihat solid
- pertimbangan yang tak kalah penting namun tidak terlalu penting adalah, color rendering, berupa kemampuan kamera dalam menilai suatu warna terhadap warna asilnya, apakah biru terlihat merah atau sebaliknya, atau menampilkan warna yang soft a
tau justru kontras;
kemudian nilai rentang ISO termasuk perbandingan noise nya terutama pada ISO tinggi, pengamatan iso ini berguna untuk anda yang merupakan hobbyist yang gemar memfoto dimanapun kapanpun, dan sekiranya tanpa tripod sehingga membutuhkan sensitivitas sensor walaupun terkadang mengorbankan hasil
dan juga fitur lain yang menarik misalnya anti shock di body kamera, pengolah gambar in camera seperti HDR, depth of field button, GPS, infrared dan lain sebagainya
Nah, dari semuanya itu, saya memang lebih mementingkan handling ketimbang hasil, kenapa? karena hasil foto terlihat indah atau buruk itu merupakan dan tergantung dari skill anda, bukan kamera anda namun tetapi dan memang sepantasnya, handling dan kualitas yang tidak sesuai dan menghalangi anda membuat karya, itu adalah salah kamera anda, oleh karena itu pilihlah kamera sesuai kebutuhan, budget, rencana anggaran untuk investasi kedepannya.
> Sesuaikan kebutuhan: anda butuh kamera untuk apa? untuk sekedar memfoto diri atau foto keluarga serta sehari? untuk memfoto hewan liar? memfoto benda asal untuk scrapbook? memfoto studio lengkap dengan alat2 studio? memfoto malam, keindahan bulan, cityscape malam hari atau pecandu foto light graffiti? memfoto model outdoor maupun indoor dengan flash? memfoto produk sampai kedetilan sangat karena mau diprint puluhan meter persegi? memfoto candid? fotografer sport sperti balapan atau sepak bola? fotografer digital? atau hanya sekedar hobi dan mengikuti tren? semua ada pilihannya dan tentu saja hanya dapat dipilih beberapa kebutuhan dari banyak kemungkinan diatas, dan perlu diingat, jangan memasukkan kebutuhan
“saya membutuhkan kamera agar terlihat dibelakangnya blur, dan muncul bokeh dari lampu atau cahaya”
sekali sekali itu bukan kategori, dan juga bukan spesifikasi, karena baik kamera ataupun lensa tidak mencantumkan keterangan tentang medan tajamnya seperti “this lens has a special built to create perfect bokeh” karena itu merupakan salah satu
efek fotografi yang lebih baik pelajari dulu hubungan bukaan apertur, rentang zoom lensa dan bagai mana cara medan tajam meng crop gambar sebelum anda meminta hal diatas.
Satu lagi belum ada diciptakan satu kamera yang mencakup segalanya, misalnya zoom rentang dari 8mm(fisheye – ultrawide) sampai 1000mm(super telephoto – untuk moto bulan mungkin) dengan bukaan fix f 1/1.4 atau f 1/2.8 , memiliki modus makro 1:1 di seluruh rentang, ISO dengan noise sangat rendah, body ringan, video HDMI, anti shock terintegrasi dan mumpuni, minimal fokus range di 1cm, warna akurat, sensor full frame (35mm film) dan seluruh fitur mentereng bawaan pabrik lainnya, jikalau ada, bayangkan lah teknologi kamera medium format sekelas hasselblad atau mamiya, dengan bentuk dan bobot ringan seperti kamera canon 3 digit, namun memiliki body magnesium aloy serta noise super rendah semisal nikon D3x, dan memiliki antishock terintergrasi di body seperti olympus atau pentax, fitur video selayaknya sony NEX, beserta HDR sony alpha, apakah itu mungkin? nanti mungkin, tapi sekalinya ada, mungkin saya juga tak akan membelinya, karena pasti lebih mahal dari mobil saya, alasannya? silahkan googling
> Sesuaikan Budget: budget anda berapa? 1-5 juta? 5-10 juta? 10-50 juta? atau unlimited? setiap kisaran budget menentukan dimana nasib gaya fotografi anda akan berakhir, karena harga merupakan spesifikasi dan spesifikasi menentukan kelas, kelas menentukan kebutuhan, dan ujung2nya menentukan hasil selain daripada skill anda.
> Investasi selanjutnya: terutama untuk SLR dan anda yang akan berencana membeli SLR. Hampir terjadi pada fotografer yang want to be a pro atau memang hobbyist yang budgetnya berlebih, yang pasti manapun anda pasti gemar memiliki benda yang lain daripada yang anda miliki, andaikata lensa kit itu 18-55, 14-45, 18-135, 18-105 atau lensa lainnya, dan anda ingin merambah ke lensa yang lain baik karena memang tuntutan kerjaan atau memang cuma untuk gengsi dan gaya, lebih baik dipikirkan anda mau membeli apa selanjutnya, memori lebih, lensa bukaan lebar yang fix, yang zoom, beli flash atau beli filter warna seperti filter kotak cokin.
hal ini karena pada SLR atau mirrorless atau sistem2 baru yang sekarang beredar, body dan lensa adalah 2 hal yang berbeda, jadi anda punya budget awal sebesar X, tapi setelah anda beli cuma bisa dapat kamera, lensa kit, tas, memori dan pembersih, dan untuk membeli lensa baru mungkin nunggu 1 taun lagi, dimana lensa kit anda adalah lensa yang tidak sesuai dengan anda. pada saat itu beranikan mengambil keputusan apakah anda akan mengambil body only dan lensa lain dengan harga berbeda, dan apabila lebih mahal, tentu anda harus membuang impian untuk memiliki kamera idaman dan menurunkan standarnya ke 1 atau 2 level dibawahnya, kecuali dana unlimited, silahkan beli yang paling mahal saja, seharusnya anda tidak akan mengeluh apapun, karena memang tak ada yang perlu dikeluhkan.
nah, apabila anda tak memiliki keinginan upgrade karena budget terbatas, lebih baik pakai prosumer yang bagus, atau belilah SLR dan menabunglah..terutama kalau alasan anda “saya ingin belajar fotografi” itu saran terakhir, saya dulu juga pakai pocket, dan saya belajar mengambil angle, rentang zoom, rendering, iso dan sebagainya dari pocket, jadi belajar fotografi adalah bukan semata membeli kamera entry level dan mengikuti panduan seperti pada kamera nikon D3000, tanpa itu pun keadaan belajar moto tetap terlaksana, dan prosumer bahkan menawarkan modus foto selayaknya SLR, bila masalah bisa atau tidaknya manual atau autofokus, prosumer memang ribet, dan SLR tinggal putar, tapi, untuk anda pribadi yang percaya diri walaupun mata anda tidak reliable (minus, plus, silindris, dll) maka autofokus merupakan pilihan yang baik, karena kamera dengn AF sekarang hampir tidak perduli seberapa payah mata anda melihat viewfinder atau layar live view, jadi fitur ini lebih ringkas dan enak untuk beberapa keperluan(menurut saya)
saran terakhir, seringlah membaca review tentang lensa, kamera dan segala macamnya dan jangan percaya begitu saja dengan apa yang anda liat di situs, memang kadang semacam objektif, tentang apa yang suatu situs tampilkan, tapi apakah anda percaya begitu saja? ini kamera, sesuatu yang anda beli, dan mahal, memiliki spesifikasi yang bahkan lebih random, kompleks dan lebih banyak daripada smartphone anda. Teliti sebelum membeli walaupun ujung2nya seperti membeli kucing dalam karung (karena setelah sampai ditoko, kamera anda didalam kotaknya seperti kucing dalam karung yang tak bisa ditukar), maka banyak2lah mencoba kamera teman yang baik, dan jangan dirusak apalagi di replace bagiannya tanpa sepengetahuan pemilik,, saya mengatakan ini juga himbauan untuk saya sendiri karena saya juga bukan sangat teliti…
> oh ya, kamera yang saya gunakan saat ini masih nikon D90 dan tanpa lensa, berhubung saya masih punya lensa 50mm f/1.4 analog turunan ayah saya, alasannya? biarkan saya sendiri yang tahu, karena setiap alasan yang saya keluarkan bisa menimbulkan brandwar terutama diantara merk yang cukup universal seperti nikon dan canon, dan calon pembeli biasanya dibingungkan oleh “warna kamera canon lebih natural, noisenya dikit, kalo nikon lebih vivid, terus nikon juga noisenya gede” jawaban saya adalah, kata siapa? di kamera itu ada custom picture control atau picture style yang bisa diganti, didownload seenak hati, jadi hasil print bisa jadi sama, mungkin beda tipis, dan mau vivid atau natural, saya si menambahkan kategori mana kamera yang hasil di layarnya mendekati apa yang saya lihat tidak perduli warnanya gimana. Satu lagi, menurut saya sih ya, canon dan nikon itu semakin berkembang ke teknologi yang hampir mirip, miripnya apa? ya coba saja sendiri kamera2 keluaran terakhir.
salam dari fotografer yang masih dalam pembelajaran, maaf kalau ada salah kata, nanti post ini saya update kalau ada yang saya ingat.. selamat mencari kamera anda..















